Lantik HMJ Sasing, Wadek III Anjurkan Program Kerja Lingkup Nasional

FIB, UNKHAIR – Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastrai Inggris (Sasing), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Khairun (Unkhair) periode 2019-2020 resmi dilantik oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FIB (Wadek III), Andi Sumar-Karman di ruang serbaguna FIB Jumat (24/5/2018) pagi.

Ketua HMJ yang baru dilantik adalah M. Nasir M. Nasir R. Hi. Yusuf, Mahasiswa Sasing semester IV. Sementara wakilnya adalah Nurul Inayah Basarun, mahasiswa Sasing yang juga semester yang sama dengan ketuanya.

Andi Sumar-Karman, saat memberikan sambutan, mengajak pengurus HMJ yang baru dilantik untuk membuat program-program kerja yang mencakup lingkup nasional. Menurutnya, ajakan ini setali dengan arahan rektor Universitas Khairun, Prof. Dr. Husen Alting pada berbagai kesempatan tentang pengembangan potensi mahasiswa. “Program-program seperti PHBD (Program Hibah Bina Desa) itu bisa dipertimbangkan dalam rapat kerja HMJ, sehingga di tahun-tahun mendatang mahasiswa sudah siap untuk berkompetisi di berbagai kegiatan nasional karena sudah direncanakan sejak awal dalam wujud program kerja,” katanya mengajak.

Bagi Cuma, begitu sapaan Andi Sumar-Karman, program atau kegiatan yang memiliki cakupan nasional dapat menjadi medium pembelajaran bagi mahasiswa di FIB untuk mengembangkan potensi diri. “Ini penting, karena dalam kegiatan-kegiatan nasional, mahasiswa tidak sekadar berkompetisi antarmahasiswa dalam jurusan atau sesama universitas, tetapi antar universitas sehingga mahasiswa terpacu untuk belajar lebih giat,” terangnya.

Mahasiswa Sastra Inggris dan FIB secara umum, lanjut Cuma, sebenarnya memiliki kemampuan untuk bersaing dengan kampus-kampus di luar Maluku Utara, hanya saja mereka belum memanfaatkan secara baik peluang-peluang yang ada. “Buktinya, pengajuan Pra-Proposal untuk Program PHBD beberapa Waktu lalu, dari FIB, kurang kebih ada dua kelompok yang lolos dan sekarang sedang menunggu tahapan evaluasi proposal,” sebutnya.

Selain soal prestasi, hal lain yang juga ditekankan Cuma ketika memberikan sambutan adalah soal Laporan Perrtanggungjawaban (LPJ) setiap kegiatan mahasiswa dan proses kaderisasi mahasiswa. “LPJ itu wajib disampaikan seusai menyelenggarakan suatu kegiatan. Ini kewajiban. Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban, juga melatih mahasiswa untuk tertib administrasi,” imbuh alumnus UGM itu.

Sementara soal kaderisasi, penulis buku “Bintang di Halmahera” itu menganjurkan kepada pengurus baru HMJ Sasing untuk membangkitkan semangat berorganisasi mahasiswa yang dipimpinnya. Anjuran ini berdasarkan amatanya bahwa banyak mahasiswa yang enggan berorganisasi sehingga setiap suksesi pemilihan ketua HMJ yang baru sering miskin kandidat.

Ketua HMJ yang baru dilantik, M. Nasir, mengaku berbagai saran yang disampaikan oleh Wadek III akan dipertimbangkan dalam rapat kerja kepengurusan yang baru. “Kami banyak mendapatkan masukan dan nasihat dari Pak Andi (Wadek III), semoga berbagai masukan itu dapat kami laksanakan. Untuk itu kami minta dukungan dari berbagai pihak,” pintanya.

Sejauh ini, kata Nasir, ada beberapa program kerja yang telah diusungnya bersama wakil ketua HMJ dalam wujud program kerja jangka panjang dan jangka pendek. “Untuk jangka pendek, kami rencanakan buat diskusi film, lokakarya dan lomba menulis, dan debat bahasa Inggris. Sementara program jangka panjangnya adalah road  to society dan study club,” sebutnya.

Terpisah, Nurfani, ketua Program Studi Sastra Inggris mengaku siap membantu dan mendukung semua kegiatan HMJ Sasing. “Selaku Kaprodi, itu sudah kewajiban saya untuk membantu dan mendukung setiap kegiatan mereka, selama itu berkaitan dengan peningkatan prestasi dan kompetensi mereka. Bahkan tidak sekadar sampai di situ, saya juga berkewajiban mendorong atau memotivasi teman-teman HMJ ini agar terus meningkatkan kualitas diri, baik dalam lingkup organisasi maupun akademik,” katanya.

Nurfani mengaku bangga dengan mahasiswa yang aktif berorganisasi, namun yang patut diperhatikan adalah keseimbangan antara organisasi dan kegiatan akademik. “Sudah menjadi sesuatu yang dianggap lumrah, mahasiswa yang berorganisasi sering beranggapan tidak perlu memperhatikan kegiatan akademik  sehingga kadang ada mahasiswa yang masa studinya lama dianggap biasa saja padahal tidak harus begitu. Dua-duanya (akademik dan organisasi) bisa jalan berbarengan. Saya berharap, mahasiswa-mahasiswa saya di Sasing bisa menjalankan keduanya,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *