Dosen UPW Unkhair Beri Pelatihan Tata Kelola Destinasi Wisata di Halbar

FIB, UNKHAIR – Gelar Pelatihan Tata Kelola Destinasi Wisata, Dinas Pariwisata Kabupaten Halmahera Barat (Halbar) mengundang narasumber dari D-3 Usaha Perjalanan Wisata (UPW), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Khairun (Unkhair). Halida Nuria Ma’rus, S.S., M.Si. dan Betly Taghulihi, SE.Par., M.Par. Hadir sebagai narasumber memberikan beberapa pandangan tentang strategi pengembangan wisata di tengah pandemi Covid-19.

Di hadapan peserta pelatihan, Halida Nuria Ma’rus membentangkan selandia dengan tajuk Tata Kelolah Destinasi Wisata pada Saat Pandemi; Pelayanan Era New Normal.  Setelah mewedarkan sejumlah jenis wisata, Halida menegaskan bahwa karakteristik berwisata pada setiap wisatawan berbeda-beda. Ada yang berkarakter travel defense atau oleh Halida disebut tipikal wisatawan yang tidak peduli dengan keadaan yang terjadi.  Bagi mereka yang penting berwisata. “Ini tipikal wisatawan yang sangat mengkhawatirkan karena pandemi (Covid-19) ini belum selesai,” tegas perempuan yang dikenal ceria itu.

Karakter wisatawan lainnya, lanjut Halida, adalah wisatawan travel phobia. Tipe wisatawan ini tidak memiliki minat untuk ke mana-mana. Sementara yang ketiga adalah wisatawan dengan tipikal travel wise. “Kalau yang ketiga ini mereka sangat teliti dan memperhatikan banyak aspek, apalagi di musim pandemi ini mereka sangat ketat soal protokol kesehatan,” terang Ibu Ida, begitu sapaan Halida Nuria Ma’rus.

Untuk itu, lulusan Universitas Udayana Bali ini menyarankan agar setiap destinasi wisata menyiapkan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang mengacu pada standar protokol kesehatan. “Protokol itu harus melingkupi semua aspek wisata, mulai dari pekerja, wisatawan, pengelola, hingga pihak ketiga, misalnya tur atau agen perjalanan,” sarannya.

Pada sesi yang berbeda, Betly Taghulihi memaparkan  pentingnya rebound strategy Pariwisata Indonesia. Rebound strategy adalah upaya untuk kembali bangkit setelah beberapa waktu diterpa krisis akibat Covid-19. “Wahab ini membuat semua negara, termasuk di kita bahwa ada banyak yang hilang atau terdampak akibat mobilitas masyarakat menurun drastis. Di bidang Pariwisata juga sangat terasa,” katanya.

Demi keberlanjutan pengembangan wisata, menurut Betly, memasuki kenormalan baru ini perlu adanya strategi, salah satu yang sangat dianjurkan adalah penerapan CHS. “Maksudnya CHS itu adalah Cleanliness (Kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keselamatan). Protokol CHS ini mencakup beberapa tahapan mulai dari Pra-kondisi, Persiapan, hingga Monitoring, Verifikasi dan Sertifikasi,” sebutnya lulusan pariwisata Bali itu.

Jika protokol di atas diterapkan dengan baik, maka destinasi wisata bisa secara bertahap dibuka dengan sejumlah parameter, Betly menyebut diantaranya adalah penurunan kasus baru Covid-19 sesuai data Gugus Tugas, kesiapan sistem kesehatan dan keselamatan, penerapan dan pemantauan protokol kesehatan.

Kegiatan pelatihan yang dilangsungkan pada rabu (2/7/2020) ini diikuti oleh sejumlah pelaku usaha pariwisata seperti Genpi Halmahera Barat, Agen Travel, dan UMKM Halmahera Barat. Rencananya, kegiatan ini akan diselenggarakan secara berkala. Halida dan Betly sendiri telah dijadwalkan untuk menyampaikan materi secara bergantian dalam beberapa minggu kedepan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *