Antologi Ibrahim Gibra Dibedah Penyair Ternama Indonesia

FIB, UNKHAIR – Kantor Bahasa Maluku Utara bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun menyelenggarakan kegiatan peluncuran dan bedah buku antologi puisi “Karang Menghimpun Bayi Kerapu” yang ditulis Ibrahim Gibra, nama pena Prof. Gufran Ali Ibrahim, di hotel Veliya, Ternate, kamis (12/12/9).

Ibrahim Gibra adalah salah satu dosen pada Program Studi Sastra Indonesia, FIB, Universitas Khairun. Sekarang, Profesor pada bidang antropolinguistik itu mengemban tugas sebagai Kepala Pusat Pembinaan dan Pelindungan Bahasa, Badan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Untuk membedah buku antologi tersebut, Hasan Aspahani, penyair ternama Indonesia yang pernah menjadi pemenang  Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016 dan Penerima Anugerah Sastra Badan Bahasa 2018 itu diundang untuk mengulas bentuk dan isi buku tersebut. Pria kelahiran 1971 ini tidak sekadar menjadi pembedah tetapi sekaligus memberi pengantar pada buku yang menghimpun 100 sajak tersebut. “Saya bilang ke Bang Hasan Aspahani, kalau di Maluku Utara, setiap orang yang bernama Hasan pasti nama panggilannya adalah Acan, jadi jangan menolak saya memanggil Bang Acan,” kisahnya disahuti Hasan Asphani “saya tidak menolak”.

Menurut rektor Universitas Khairun masa jabatan 2009-2013 ini, puisi-puisi yang ditulisnya dilakukan sejak bulan September 2018. Ada berbagai persoalan kehidupan yang disarikan dalam bentuk sajak. Sajak-sajak yang ditulisanya sudah lebih dari 200-an sajak. “Ini buku sajak saya yang pertama, insya Allah masih ada dua sampai tiga buku lagi yang akan terbit. Salah satunya adalah nikah daun-daun, resepsi pohon-pohon,” ceritanya sembari mengaku salah satu draf bukunya sudah disanggupi oleh penerbit Kompas untuk diterbitkan.

“Kompas menggunakan kata menimbang, jadi surat itu Penerbit Kompas dengan segala pertimbangannya sudah siap menerbitkan buku saya,” katanya disambut tepuk tangan peserta bedah buku.

Pada saat memberi pengantar di hadapan peserta kegiatan, penulis buku mengelolah pluralisme ini mengaku menulis sajak-sajak ini dalam tiga kepentingan. “Pertama, melatih pemadatan berpikir. Ada banyak fenomena kehidupan yang dipadatkan dalam pilihan kata-kata tertentu itu bukan hal gampang. Kedua, berkhidmat pada kata. Ketiga, merawat jiwa,” akunya.

Sementara Bang Acan, pada saat memberikan pandangannya tentang buku kumpulan sajak ini, mengaku kagum dengan pilihan kata-kata yang baginya adalah sesuatu yang baru dalam perbendaharaan kosakata. “Pada awal membaca sajak-sajak Pak Gufran, ada banyak kata-kata lokal yang oleh penulis sangat berani untuk menggunakannya dan dalam takaran yang pas, tidak berlebihan, menurut saya. Ada penyair yang begitu, sering berlebihan. Di Jawa banyak yang begitu,” katanya.

Menurutnya, Ibrahim Gibra adalah penyair yang mengusung tema yang tidak biasa. Dia mengangkat kearifan lokal yang ditampilkan melalui puisi. “Sebagai penyair, saya harus membaca banyak puisi. Dan saya biasanya cepat bosan kalau kata-katanya itu-itu saja, temanya itu-itu saja. Pas saya baca punya Pak Gufran, wah ini beda ni. Yang saya mau tegaskan adalah buku ini memang benar-benar bagus karena saya sudah banyak baca buku puisi,” tegasnya.

Bang Acan menjelaskan, sejak diminta untuk memberi masukan terhadap buku sajak ini, judul yang disampaikan penulis adalah gelombang ketiga. Namun ia memberi petimbangan bahwa judul yang hampir sama pernah dipakai oleh penyair lainnya. Untuk itu, ia mengusulkan judul antologi ini menjadi “Karang Menghimpun Bayi Kerapu”. “Di laut, bayi kerapu adalah gambaran kehidupan masa depan. Karang adalah tempat hidup bayi-bayi kerapu, jadi  kalau lautnya tidak sehat, karangnya tidak bagus maka ikannya tidak bisa tumbuh, untuk itu, judul ini memberikan gambaran bahwa buku ini bisa memberikan kehidupan kepada kita. Kira-kira begitu,” katanya.

Kegiatan bedah buku ini berlangsung sangat interaktif sehingga ada banyak penanya yang mengajukan berbagai pertanyaan hingga meminta pembedah untuk membacakan salah satu puisi dalam sajak tersebut. Di sela diskusi, Gufran yang didapuk untuk menjawab beberapa pertanyaan, mengajak peserta, terutama anak-anak muda untuk terus menulis. “Saya berharap menulis itu bukan hanya tugas teman-teman dari FIB tetapi kita semua, terutama yang muda-muda ini. Mari kita buat sajak-sajak nanti saya minta Bang Acan untuk membaca dan kita carikan penerbitnya,” ajaknya.

Kegiatan bedah buku ini diakhiri dengan penyerahan buku kepada sejumlah tamu dan peserta yang ikut kegiatan tersebut. Tampak peserta yang berkesempatan mendapat buku bergantian memberikan selamat sekaligus meminta penulis menandatangani buku yang didapatnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *