Kemenpar, Pemda Morotai, dan Unkhair MoU Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan

FIB, UNKHAIR – Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Pemerintah Daerah (Pemda) Morotai, dan Universitas Khairun (Unkhair) menggelar penandataganan nota kesepahaman atau biasa disebut MOU (momerandum of understanding) pada hari kamis (28/2/19) di Hotel Sultan, Jakarta.

Mustafa Mansur, salah satu perwakilan dari Unkhair yang diutus secara langsung oleh Program Studi Usaha Perjalanan Wisata untuk menghadiri kegiatan tersebut menuturkan bahwa  penandatanganan MoU itu merupakan tindak lanjut dari rapat evaluasi mengenai prospek pariwisata berkelanjutan untuk 10 destinasi Bali baru. “Dalam rangka mewujudkan Wonderfull Indonesia Digital Tourism of Revolution 4.0 Era (WIDT 4.0), Kementerian Pariwisata RI terus mengembangkan pembangunan pariwisata berkelanjutan. 10 Destinasi Bali baru yang menjadi perioritas pemerintah terus dilalukan penguatan melalui keterlibatan perguruan tinggi,” terangnya.

Atas dasar itu, lanjut Mustafa, Unkhair sebagai Perguruan Tinggi di Maluku Utara ditunjuk berperan sebagai tim monitoring untuk destinasi Morotai yang menjadi salah satu dari 10 Bali baru tersebut. “Untuk membangun sinergitas dan komitmen itu, maka dilakukan Rakornas Kemenpar dan penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kemenpar, Pemkab Morotai dan Unkhair. Unkhair dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Suratman Sujud, untuk menandatangani MoU,” imbuhnya.

Selain itu, juga dilakukan penandatanganan perjanjian kerjasama dan Persiapan Pelaksanaan Training of Trainer (ToT) untuk dosen dalam rangka pengembangan desa wisata melalui pendampingan. Untuk perjanjian kerjasama dan persiapan pelaksanaan TOT tersebut, dilakukan antara Kemenpar, Kemendes, dan beberapa Perguruan Tinggi termasuk Unkhair. “Penandatangan ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi dan Sodialisasi mengenai program desa wisata, di mana Unkhair juga masuk dalam perguruan tinggi untuk pembangunan desa wisata tersebut,” imbuhnya.

Menteri Pariwisata, Dr. Arif Yahya pada sambutan pembukaan Rakornas mengatakan bhwa ada tiga hal yang harus bersinergi dalam pembangunan pariwisata yakni Kreasi, Akubasi, dan Komersialisasi. Kreasi merupakan peran bidang kebudayaan, Akubasi merupakan bidang ekonomi kreatif, dan Komersialisasi adalah peran bidang pariwisata. “Ketiga hal ini menjadi pesan penting Menteri Pariwisata,” pungkas Mustafa yang mengikuti Rakornas tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *