Ekskavasi, Mahasiswa FIB Dilibatkan

FIB, UNKHAIR  Sebanyak 8 mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Khairun (Unkhair) terlibat dalam proses ekskavasi benteng Oranje, Ternate. Kedelapan mahasiswa tersebut berasal dari dua program studi yang berada di bawah FIB, yaitu program studi Ilmu Sejarah dan Antropologi Sosial.

Menurut Irfan Ahmad, S.S., M.A., ketua Program Studi Ilmu Sejarah, FIB, kegiatan yang melibatkan mahasiswa  sejak tanggal 13 September ini berawal dari surat yang diterima  Dekan FIB yang berisi tentang permintaan pembentukan tim ekskavasi dan konservasi. “Surat itu berasal dari pihak kontraktor yang memenangkan lelang pekerjaan ekskavasi. Pak Dekan minta saya tindak lanjut permintaan ini karena meraka minta kerja sama dalam bentuk ikut terlibat dalam ekskavasi dengan ketentuan jumlah tim itu terdiri dari 8 mahasiswa dan 1 orang dosen pendamping,” terangnya.

FIB menyambut baik ajakan ini, lanjut Irfan, karena upaya pelestarian dan pemanfaatan benteng Oranje sebagai warisan budaya merupakan salah satu prioritas. “Pemerintah kota Ternate berencana akan melakukan pengembangan kawasan budaya terpadu dan kawasan strategis konservasi warisan budaya. Untuk itu,  seluruh komponen, baik akademisi, praktisi, pemerhati budaya, dan lain-lainnya perlu mendukung rencana ini sebagai wujud nyata dari partisipasi masyarakat. Dengan alasan itu, kami bersedia terlibat dalam pekerjaan ini,” jelasnya.

Sebelum pekerjaan ini dilakukan, demi menyamakan persepsi, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Maluku Utara bekerja sama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), kota Ternate, menggelar diskusi terpumpun. Melalui diskusi terpumpun itu, mengemuka bahwa hasil kajian yang dilakukan BPCB Maluku Utara mengenai benteng Oranje menunjukkan bahwa ternyata struktur dinding yang ada di bagian barat telah runtuh.  “Bagian yang runtuh ini berada tepat pada posisi bastion Gilolo di sisi bagian barat laut, dan pada bastion Real di sisi barat daya. Oleh karena itu, diperlukan sebuah tindakan penyelamatan. Niat baik ini perlu mendapat apresiasi, karena pihak yang berwenang terhadap ini bersedia melakukan penyelamatan dan terbuka untuk melibatkan pihak kampus dan stakeholder lainnya,” imbuh Irfan.

Meskipun telah dilibatkan, kata Irfan, pihaknya akan terus mengontrol dan mengkritisi setiap pekerjaan atau pemanfaatan benteng-benteng di Maluku Utara yang dianggap keliru di masa mendatang. “Perlu kita tegaskan, jangan sampai dianggap kita terlibat ekskavasi lalu seakan dininabobokan dan kedepan kita biarkan walaupun salah,” tegas alumni Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *