TIGA DOSEN FIB UNKHAIR JADI PEMBICARA PADA KONFRENSI INTERNASIONAL ASIA-PASIFIK

FIB UNKHAIR – Tiga dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun (Unkhair), Ternate, tampil  sebagai pembicara pada The3rd Asia-Pacific Research in Social Sciences and Humanities (APRiSH) 2018 yang digelar Universitas Indonesia, di JS. Luwansa Hotel, Jakarta (13-15/08/2018).

Yanuardi Syukur, dosen Antropologi Sosial, FIB, tampil mewedarkan artikel berjudul “Moderate-Radicalism: A Sociocultural Account of The Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Islamic Activism in Indonesia”. Artikel ini merupakan hasil riset yang ditulis bersama Prof. Achmad Fedyani Saifuddin.

“Saya menyampaikan sebuah konsep baru terkait moderate-radicalism yang mungkin bisa menjadi jalan tengah dalam melihat perkembangan aktivisme Islam yang tidak harus terpengaruh dengan predikat radikal dan tidak-radikal,” kata Yanuardi Syukur.

“Di satu sisi, aktivis Islam yang dilabeli sebagai radikal mendapatkan penentangan dari negara karena dianggap bertentangan dengan ideologi negara, sementara di sisi lain aktivis Islam yang dilabeli sebagai tidak-radikal mendapatkan apresiasi oleh negara karena dianggap mendukung ideologi negara,” lanjut kandidat doktor Antropologi UI itu.

Pembagian dikotomis tersebut, kata pria yang aktif menulis ini, cenderung mengembangkan potensi konflik dua pihak yang membahayakan kelangsungan kehidupan bangsa. Padahal, negara sebagai entitas yang terdiri dari berbagai suku-bangsa, agama, latar belakang, dan golongan meniscayakan terjadinya perbedaan pandangan.

Lebih jauh, Yanuardi menjelaskan, profil INSISTS dapat disebut sebagai organisasi aktivis Islam dengan representasi aktor yang beragam, penggunaan platform yang konservatif modern, serta pengaruh kekuatan kultural yang majemuk bagi eksistensi INSISTS di Indonesia. “Secara praktis proses integrasi dalam organisasi aktivisme Islam INSISTS yang anggotanya beragam sangat penting dalam merajut kembali dikotomi gagasan soal radikal dan tidak-radikal dalam aktivisme Islam di Indonesia. Dalam konteks makro, apabila fenomena ini berkembang jauh lebih besar, akan sangat penting bagi menjaga kelangsungan integrasi nasional,” jelasnya.

Sementara Abd Rahman dan Mustafa Mansur, memaparkan hasil riset mereka bersama Tommy Christomy, Ph.D (dosen senior FIB UI) dengan judul “Finding Hero & Being Indonesia in Loloda North Maluku”.

“Kami akan membahas soal bagaimana menemukan kembali nilai-nilai kepahlawanan di Loloda dan dampaknya bagi pengembangan otonomi daerah di Maluku Utara,” kata Abd Rahman, dosen Ilmu Sejarah FIB, Unkhair.

Pria yang juga kandidat doktor Ilmu Sejarah FIB UI ini mengaku dalam makalahnya, membahas mengenai reartikulasi memori kolektif perjuangan masyarakat Loloda pada masa pergerakan nasional awal abad ke-20 dalam hubungan dengan nasionalisme Indonesia.

Selain Abd Rahman, Mustafa menambahkan bahwa nasionalisme yang dimaksud ingin menempatkan posisi Loloda pada ruang kultural dan politik.  “Keberadaan Loloda saat ini merupakan suatu identitas yang tumbuh dalam jiwa rakyat sebelumnya, yang secara kebangsaan telah menjalani satu kesatuan riwayat melalui pergerakan nasional pada awal abad ke-20,” terang dosen Ilmu Sejarah FIB Unkhair tersebut.

“Bisa dikatakan bahwa ini adalah upaya membangun dan menemukan ke-Loloda-an dalam ke-Indonesia-an,” tukas Mustafa Mansur yang juga Sekretaris Besar (Tuli Lamo) Kerajaan Loloda tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *