Riung Keluarga: FIB Berwisata, Bersih-Bersih Pantai, hingga Ketegangan Menghadapi Badai

FIB UNKHAIR – Setelah pelantikan dekan dan wakil-wakil dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Unkhair, untuk masa jabatan 2018-2022, segenap akademika FIB menggelar riung keluarga (family gathering) di pantai Cobo, Tidore. Acara ini dilakukan sebagai bentuk sukuran sekaligus mengeratkan kebersamaan keluarga besar FIB.

Hari minggu (29/4). Sejak pagi sekira jam 9:00, dosen, pegawai, dan keluarga mereka mulai berdatangan di titik kumpul di Pelabuhan Perikanan, Bastiong. Ini waktu yang disepakati dan berkabar melalui gawai.

Perahu motor yang dipesan sehari sebelumnya siaga menanti calon penumpangnnya. Sembari menanti, dosen, pegawai, dan keluarga yang lebih dulu datang, sebagian berswafoto untuk mengabadikan momen tersebut. Lainnya, menyela penantian dengan mengobrolkan segala hal yang terlintas.

Lebih dari satu jam telah melampaui waktu keberangkatan. Waktu menunjukkan pukul 10:15, perahu baru melepaskan tali penambat. Di buritan perahu, mesin motor merk Yamaha ukuran 40 telah dihidupkan. Sang juragan siap mengendalikan perjalanan keluarga besar FIB ke pantai tujuan.

Perahu motor itu bermesin dua, namun yang dihidupkan hanya satu. Mungkin alasan hemat, perahu melambat. Tidak ada yang protes, selain jarak yang dekat, semua menikmati kelambatan perjalanan itu dengan sesungguh hati. Suasana juga masih sama, di anjungan perahu, mereka menikmti hangatnya matahari pagi, berswafoto, dan saling bertukar senyum.

Di geladak, lantai dasar perahu, ibu-ibu FIB berteduh dari angin dan matahari. Suasananya dingin tetapi ceritanya terus hangat. Wakil dekan I, Nurain Jalaluddin, selalu dituduh sebagai dalangnya kehangatan bercerita. Benar saja, Ibu Nunung, saapaan Nurain Jalaluddin, suka dan senang bercerita. Apalagi pada kesempatan itu turut ikut, sahabatnya, ibu Darmawati, ketua jurusan Pendidikan Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Unkhair, yang memiliki kesukaan dan kesenangan yang sama, bacarita.

Akhirnya tiba di Tidore, salah satu pantai yang sering dimamfaatkan untuk berenang. Perahu menepi di bibir pantai. Kandas. Tidak ada yang berkenan turun. Pantai itu dianggap kurang tepat untuk berenang karena urusan kejernihan. Mungkin karena arus, laut di pantai itu menjadi kabur.

Rembuk kembali, penumpang mufakat, pantai tujuan dipindahkan ke Cobo, salah satu pantai andalan di Tidore. Beda tempat, beda biaya. Jarak dari Ternate ke Cobo lebih jauh dari pantai pertama yang disinggahi. Apalagi pantai Cobo dikenal berteluk. Tentu jaraknya makin bertambah.

Harga sewa harus direkondisikan. Ini soal perimbangan pendapatan dan pengeluaran (beli bensin). Semakin jauh, bahan bakar (bensin) semakin terkuras. Tidak ada toleransi meskipun pada saat kandas, juragan dan awak perahu dibantu dua orang dosen yang rela basah lebih dulu untuk mendorong perahu. Biaya sewa bertamba Rp. 100.000. Sepakat. Volume gas mesin dinaikkan. Perahu kapal melambat hasa-hasa (berjalan mengiringi pantai) ke Cobo.

Sesampainya di tanjung, geliat pantai Cobo sudah menggugah. Hamparan pasir yang berwarna hitam kecoklatan terpapas di sepanjang pantai tersebut. Di kejauhan, seseorang melambai seperti merindukan kedatangan keluarga FIB di pantai itu. Hi. Ismail Maulud rupanya, Wakil Dekan II FIB, pimpinan yang diberitanggung jawab mengurusi “hajat hidup orang banyak” FIB.

Semakin dekat, dasar laut semakin jelas. Seperti kaca, laut di pantai Cobo tampak bening. Gairah berenang tidak tertahankan. Sebelum perahu ditambatkan, empat orang sudah menghempaskan diri dari perahu.

Penumpang turun. Barang-barang bawaan pun ikut diturunkan. Keadaan langsung riuh. Rupanya semua kelaparan. Semangat berwisata membuat sebagian lupa sarapan pagi. Mereka berbagi piring. Makanan dilahap. Beberapa memilih makan sambil berenang. Ketua Prodi Antropologi, Safrudin Abdulrahman misalnya, ia menggenangkan badannya di laut setinggi dada sambil melahap makanan yang dibawanya dengan piring.

Usai makan, semuanya berenang kecuali Ibu Farida Maricar. Perempuan bergelar doktor dan dikenal murah senyum itu menganggap kebahagian terbesarnya adalah ketika melihat orang lain bahagia. Ia memilih duduk dipantai menikmati kebahagiaannya melihat keluarganya (FIB) yang sedang berenang bahagia.

Beberapa lelaki FIB, termasuk dekan FIB, Drs. Fachmi Alhadar, M.Hum, tidak hanya berenang. Mereka juga mengadu ketangkasan dan keahlian mengola kulit bundar di pantai. Mereka membagi dua tim untuk saling hantam. Tim yang berada di sebelah utara memenangi pertandingan itu dengan skor 9-4. Ini berkat gelandang bertahan FIB, Ketua Prodi Sastra Indonesia, bapak Ridwan.

Setelah lelah bermain, sebagian kembali berenang. Lainnya melakukan pembersihan dan memusnahkan sampah yang berserekan di pantai itu. Menurut Wadek II, Hi. Ismail Maulud dan kepala Lab. Sejarah, Irfan Ahmad, setiap orang harus memiliki kesadaran terhadap lingkungannya. Pasalnya, Maluku Utara adalah daerah kepulauan sehingga ada banyak sampah kiriman dari pulau-pulau lain. Untuk itu, setiap orang harus memiliki kesadara tidak membuang sampah sembarangan tempat dan selalu membersihkan lingkungannya. Hal ini mengemuka dari percakapan mereka pada saat mengumpul-musnahkan sampah di pantai Cobo.

Waktu semakin sore, anak-anak kecil, sebagian sudah menggigil. Angin berhembus kencang. Langit tampak berawan pekat, petanda sebentar lagi akan hujan. Sebagian masih membersihkan pantai. Lainnya masih berenang. Sisanya, tengah mengabadikan keakraban dan suasana di pantai itu. Bertindak sebagai fotografer, Bahtiar Hairullah memotret berbagai peristiwa yang terjadi dalam kerentangan waktu itu. Sesekali, agar tidak ketinggalan momentum, lelaki yang belum menikah itu berswafoto untuk mengabadikan pengalamannya.

Cuaca semakin memburuk, hujan mendirus deras, angin tidak mau kalah. Kencangnya angin membawa butiran hujan menjadi perih ketika menghujam ke tubuh siapa saja secara langsung. Anak- anak kecil diselamatkan dari hujan dan angin di geladak perahu. Juragan dan awak kapal meneduhkan diri di bawah pohon sekitar pantai sambil menunggu keluarga FIB menuntaskan keseruannya berfoto dalam keadaan hujan dan angin kencang di pantai itu. Setelah puas, juragan melepaskan tali penambat. Awak perahu menaikkan jangkar, mesin dihidupkan.

Selama diteluk Cobo, hanya angin dan hujan yang menerkam perahu yang ditumpangi keluarga FIB. Setelah lepas pantai menyeberang ke Ternate, gelombang paket lengkap (hujan, angin,  arus, dan kabut) mempermainkan perahu berwarna biru itu. Menghindar dari hantaman ombak, juragan sesekali mengarahkan haluan ke pulau hiri. Alhasil, perahu terpapas tak beraturan.

Sebagian besar penumpang berada di geladak. Beberapa berada di atas dek perahu. Salah satunya adalah Ibu Rahma Jumati. Perempuan yang dikenal jago memasak ini ternyata tidak jago menghadapi gelombang. The right man in the right place. Baginya, semua orang akan ahli pada bidangnya. Soal gelombang bukan bidang keahliannya. Ibu Ama, begitu Rahma Jumati dipanggil, memisalkan seperti badai rumah tangga, tidak semua orang dapat menghadapinya. Sama dengan badai yang disebabkan oleh cuaca, tidak semua tangguh menghadapinya.  Wajar saja, kalau ia takut dan sempat menangis memelas kehadiran suaminya pada saat itu agar ada sandaran harapan kalau keadaan memburuk. Raut wajah ketakutannya masih akut meskipun tangisannya berhenti karena mendapat banyak guyonan dari sahabat sejawatnya. Ia beruntung karena jarak antara Tidore dan Ternate sangat dekat. Sensasi ketakutan hanya dirasakan sebentar lalu berakhir karen kapal hendak berlabuh di pelabuhan Perikanan, Bastiong.

Suasana haru juga terjadi di geladak kapal. Sebagian orang dewasa beristigfar memohon meselamatan kepada Tuhan. Anak-anak kecil menangis ketakutan, dan lainnya menenangkan. Salah satu momen yang tidak akan terlupakan dalam perjalanan pulang itu adalah, kerah baju seorang dosen hampir lepas dari tempatnya karena dikekang oleh dosen lainnya.

Kapal berlabuh, bergegas turun. Semuanya telah kembali dengan selamat. (*)

2 thoughts on “Riung Keluarga: FIB Berwisata, Bersih-Bersih Pantai, hingga Ketegangan Menghadapi Badai

  1. Selamat untuk keakraban di fib. Semoga semua arus tak harus berbadai. Krn kenyataannya, kapal akhirnya berlabuh di dermaga dengan selamat. Di fib, semua berlayar dan berlabuh dengan damai. Selamat!
    Mantap Pak Rudi Tawari atas tulisan yg mengabadikan momen ini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *